Bagaimana Membangun Ekonomi Umat Dari Pesantren ? Ini Jawaban Riswan Batjo SAg, SE

0
85

Riswan : Kini Saatnya Pesantren Berfikir ‘Out Of The Box’

PARIMO | matarakyatindo.com – Sekertaris Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong Riswan Batjo Ismail SAg, SE menyebutkan, selama ini banyak orang lebih mengenal lingkungan pesantren sebagai Lembaga Spritual dan humanis, melakukan gerakkan pembangunan umat lewat Pendidikan dan dakwah, dengan prinsip Lillahi Ta’ala.

Inilah konsepsi pesantren yang di pahami secara umum sejak dulu, dan inilah yang kami sebut ‘berfikir In the box pesantren’.

Menurutnya, untuk era ekonomi terbuka dan semakin radikal saat ini, sudah saatnya pihak pengelola pesantren berfikir tentang ketahanan ekonomi pesantren dan ekonomi umat.

“Ini yang aku sebut berfikir out the box pesantren, kenapa?, sebab aku ingin pesantren memiliki ketahanan ekonomi dan menjadi pusat pergerakkan ekonomi umat, dalam prinsip-prinsip ekonomi syariah” ujarnya kepada media ini.

Dalam tatanan kehidupannya, fenomena ekonomi pesantren selama ini yang kami pahami, selalu di suplai oleh para dermawan/dermawati yang mempunyai kesadaran moral untuk menghidupkan pesantren.

Sehingga tidak jarang kita menyaksikan pada momen tertentu seperti Ramadhan pondok pesantren melakukan gerangan donasi untuk menunjang kebutuhan pesantren, terangnya.

Dari tulisan inilah kami ingin kita berfikir terbalik, yakni pesantrenlah yang harus menjadi penggerak ekonomi umat, dengan cara membangun ketahanan ekonomi pesantren, sehingga dapat menghidupi dirinya sendiri dan di kembangkan menjadi penyanggah ekonomi umat.

Lalu bagaimana konsepnya?
Setiap pondok pesantren harus berfikir out of the box, membangun unit-unit usaha pesantren dengan prinsip syari’ah, karena harus di sadari bahwa, pendekatan yang paling efektif untuk membina umat dan membangun persatuannya saat ini adalah gerakkan ekonomi.

Lalu bagaimana memulainya? Awalilah dengan menggerakkan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh pesantren, bangun program dan konsep ekonomi secara sistematis dan terukur, termasuk back up dari pemerintah pusat maupun daerah.

Sebenarnya yang jarang di sadari selama ini kata Rislan adalah, pesantren memiliki potensi yang sangat kuat untuk membangun sebuah usaha ekonomi yang mapan di banding badan usaha lain secara umum, yakni : paling tidak ada 5 prinsip yang di miliki oleh pesantren untuk membangun dunia usaha ekonominya:
1. Trus(terpercaya) Ash-Shid’qu (benar/jujur)
2. Al-Amanah Wal-Wafa bil ‘Ahd (amanat/tepat janji)
3. Al ‘Adalah (keadilan)
4. At-Ta’awun (tolong menolong)
5. Istiqomah (konsisten).

Sejatinya inilah prinsip yang sangat di butuhkan dunia usaha secara global saat ini, 5 modal ini ada pada pesantren yang tak di ragukan di akui oleh masyarakat indonesia, dan inilah sejatinya moral ekonomi itu, ini pula sejatinya prinsip ekonomi yang syariah itu.

Lalu mengapa selama ini 5 prinsip yang di miliki oleh pesantren tersebut tidak di kelola sebagai sumberdaya ekonomi umat?, jawabannya cuma satu yakni :” kita masih berfikir in the box pesatren dan belum berani berfikir out of the box pesantren” pungkasnya.

Wartawan : Sumardin (PDE)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here