Ballo : Jurnalis Harus Memahami Etika Dalam Mengabarkan Melalui Empat Asas

0
162

Reporter : Pade Husain

PALU || matarakyatindo.com – Sekitar 50 orang Jurnalis dari media Online, media cetak dan media Televisi yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Kriminal (IJK) Sabtu (7/12/2019) hadir di Hotel Amazing menghadiri acara Workshop “Etika Dalam Mengabarkan”.

Nampak hadir Kapolres Palu AKBP H.Moch Sholeh SIK, SH MH, Ketua Basarnas Basrano SE MAP, Kapemrem 132 Tadulako, Ketua AJI Palu Iqbalovski Muhamad, Abdi Mari (TV One) sebagai nara sumber.

Ketua AJI Palu Iqbalovski Muhamad memaparkan, Kode Etik Jurnalistik yang lahir pada tanggal 14 Maret 2006, oleh gabungan organisasi pers dan Kode Etik Jurnalistik baru yang berlaku nasional berdasarkan keputusan Dewan Pers No. 03 / SK-DP / III / 2006 tanggal 24 Maret 2006.

Hal ini sangat penting untuk digunakan oleh rekan jurnalis jika perlu, melalui penggunaan empat asas , yaitu:

1. Asas Demokratis

Demokratis berarti berita harus disiarkan secara lengkap dan independen, selain itu, Persahabatan wajib mendapatkan hak jawab dan koreksi, dan pers harus mengutamakan kepentingan publik.

Asas revisi ini juga mendukung dari pasal 11 yang diajukan, Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak revisi secara proposional. Sebab, dengan adanya hak jawab dan hak koreksi ini, orang tidak bisa menzalimi pihak manapun. Semua pihak yang terlibat harus memberikan kesempatan untuk menyetujui pandangan dan pendapatnya, tentu saja proporsional.

2. Asas Profesionalitas

Secara sederhana, pengertian asas ini adalah wawancara Indonesia harus menguasai profesinya, baik dari segi teknis maupun filosofinya. Misalnya Pers harus membuat, menyiarkan, dan menghasilkan berita yang akurat dan faktual. Dengan demikian, publikasi Indonesia mendukung teknis, disetujui sesuai dengan norma yang berlaku, dan paham terhadap nilai-nilai filosofi profesinya.

Hal lain yang ditekankan pada wawancara dan pers dalam asas ini adalah harus menunjukkan identitas kepada narasumber, diminta melakukan plagiat, tidak mencampurkan fakta dan opini, informasi yang didapat, mengatur embargo, informasi keterbukaan, dan off the record, serta pers harus segera dibuka mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang tidak akurat dengan meminta maaf.

3. Asas Moralitas

Sebagai sebuah lembaga, media massa atau pers dapat memberikan kehidupan sosial yang sangat luas terhadap tata nilai, kehidupan, dan kehidupan masyarakat luas yang mengandalkan kepercayaan. Kode Etik Jurnalistik mewujudkan sebuah moral dalam menjalankan kegiatan profesi siaran.

Untuk itu, di terbitkanlah yang tidak dilandasi oleh moralitas tinggi, secara langsung sudah disetujui asas Kode Etik Jurnalistik.

Hal-hal yang berkaitan dengan asas moralitas antara lain Wartawan tidak menerima suap, Wartawan tidak menyalahgunakan profesi, tidak merendahkan orang miskin dan orang cacat (Jiwa maupun fisik penyandang cacat), tidak menulis dan menyiarkan berita yang terkait dengan SARA dan gender, tidak mau percaya dengan kesusilaan, tidak mengizinkan identitas korban

4. Asas Supremasi Hukum

Dalam hal ini, diterbitkan persetujuan profesi yang kebal dari hukum yang berlaku. Untuk itu, diterbitkan untuk patuh dan disetujui untuk hukum yang berlaku. Dalam memberitakan sesuatu kabar juga diwajibkan menghormati asas praduga tak bersalah, urai Ballo panggilan akrabnya ini.

Abdi Mari wartawan TV One sebagai moderator menjelaskan, wartawan On Line harus lebih bijak menyikapi pemberitaan yang terkirim melalui grup WhatShapp.

“Lebih baik diteliti dulu untuk dilakukan editing, kemudian diabdet melalui berita. Tidak boleh mencuplik tanpa ada persetujuan. Sedangkan untuk tayangan fotonya harus diteliti agar desain gambarnya lebih menceritakan tulisan yang ditayangkan dan layak dipublikasikan” kata Mari panggilan akrabnya ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here