DPRD Bingung, Harga Beras Ditingkat Petani Turun, Harga di Pasar Normal…! Siapa Yang ‘Bermain’ ?

0
135

PARIMO | matarakyatindo.com – Petani beras di Parimo akhir-akhir ini menjadi ‘resah’ akibat turunnya harga pembelian beras oleh pengumpul hingga dibawah Rp 8 ribuan / Kg, hingga petani merugi.

Sementara untuk harga normalnya sesuai HET pemerintah tercatat pada harga jual Rp 8.300 / Kg, sedangkan pihak Dinas Perdagangan & Perindustrian Parimo ‘diam’, wakil rakyat mulai angkat suara.

Melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung di ruang Komisi II DPRD Parimo, Senin (15/3/2021) dihadiri Dinas Pertanian Holtikultura dan Dinas Perdagangan Perindustrian, Enam wakil rakyat tergabung di Komisi II secara bergantian mempertanyakannya.

“Rintihan petani soal turunnya harga beras ditingkat pengumpul memang wajar. Tapi yang menjadi aneh adalah mengapa harga beras di pasar saat ini masih normal…! Siapa yang bermain soal ini ?” Kata Ketua Komisi II Moh. Zain saat RDP siang tadi.

Jika dilihat dari persoalan ini kata Moh. Zain, seharusnya pihak Dinas terkait harus lebih cepat bergerak untuk menelusuri laporan masyarakat petani terkait turunnya harga beras ditingkat pengumpul. Sementara harga ketentuan pemerintah belum ada yang direvisi, terang Zain.

Inilah yang menimbulkan polemik di petani, sehingga Dia menyarankan kepada Dinas perdagangan Perindustrian Kabupaten untuk sesegera mungkin melakukan mediasi dengan pihak Bulog terkait turunnya harga beras, tekannya.

Demikian pula pernyataan politisi Demokrat Dapil Satu H. Suardi. Menurutnya, terjadinya anjloknya harga beras saat ini dikarenakan masuknya beras impor ke wilayah Sulawesi Tengah dengan harga dibawah standar HET.

“Ini jelas ada kaitannya dengan masuknya beras impor oleh pemerintah saat pandemi. Dan ini bukan juga kesalahan siapa-siapa. Namun yang harus diupayakan adalah bagaimana pihak Eksekutif melalui Dinas terkait mampu memberikan jawabannya” ujar H. Suardi.

Bahkan solusi yang disampaikan oleh Dinas Perdagangan Perindustrian Kabupaten soal hadirnya tol laut yang telah mengkafer harga beras dengan harga normal, tidak juga memberikan solusi.

Untuk mengangkat derajat petani kedepannya, setidaknya pihak pemerintah daerah harus berpikir jernih dalam memasarkan harga beras diluar daerah.

“Kedepannya nanti pusat negara kita kan berada di Pulau Kalimantan. Ini artinya mulai saat sekarang harus daerah itu menjadi sasaran, karena kualitas beras kita sangat baik” terang anggota Komisi II ini.

Senada, Umi Kalsum anggota Komisi II juga memberi isyarat kepihak Eksekutif untuk melakukan terobosan dalam hal kestabilan harga beras ditingkat petani.

“Soal harga beras katanya turun itu sebenarnya ada ‘permainan’ ditingkat pengumpul. Hal ini kalau tidak dicari solusinya, jelas akan merugikan petani. Paling tidak pihak Dinas Perdagangan bisa membicarakan dengan Bulog” tegas politisi perempuan ini.

Lantas apa jawaban Eksekutif soal ‘teriakan’ petani harga beras anjlok ?
Melalui Kepala Bidang Pemasaran Dinas Perdagangan Perindustrian Parimo, I Gede W. Sudarta menjawab, harga beras turun salah satunya karena panen berlimpah.

“Kami sudah menerima laporan petani soal harga beras turun, karena dibeli oleh pengepul yang berada diwilayahnya. Dan solusinya saat ini pemerintah daerah sudah menyiapkan solusinya, yaitu dengan hadirnya tol laut akan menstabilkan harga beras ditingkat petani” ujar Gede dihadapan Komisi II.

Diakhir pernyataan, Ketua Komisj II Moh Zain memberikan solusi yaitu agar pihak Eksekutif segera berdialog dengan pihak Bulog, karena Bulog tempat pemecahan masalah ini.

“Harapan DPR kenapa Bulog tidak menyangga permasalahan ini. Dan yang heran lagi, kenapa saat harga beras naik Bulog bereaksi, tapi saat harga beras anjlok, Bulog ‘diam'” tegas Moh. Zain. (**)

Penulis : Sumardin (Pde)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here