Gelar Aksi Prakondisi Mahasiswa – Masyarakat Kibarkan Bendera AMPIBI ‘Turunkan’ Bupati, Mengagetkan…!!!

0
143

PARIMO | matarakyatindo.com – Sejumlah masyarakat bersama Mahasiswa melakukan unjuk rasa di Parigi pagi tadi Rabu (15/7/2020) dengan mengibarkan bendera AMPIBI sembari ‘meneriakan’ turunkan Bupati H. Samsurizal Tombolotutu.

Teriakan tersebut telah menyebut dengan amburadulnya kepemimpinan Samsurizal Tombolotutu sebagai Bupati Parigi Moutong (Parimo) diperiode kedua ini, membuat tokoh hadat, masyarakat serta mahasiswa terpaksa harus mengibarkan bendera Aliansi Masyarakat Peduli Tuntut Pemberhentian Bupati Parigi Moutong (AMPIBI).

Bahkan kegiatan aksi Tanda Tangan Petisi Masyarakat untuk menuntut Pemberhentian orang nomor satu tersebut secara tegas untuk menyikapi persoalan yang terjadi di daerah ini, mulai dari buruknya kepemimpinan yang diduga telah menyalahgunakan kekuasaan, melanggar norma etika serta peraturan perundang-undangan lainnya sehingga harus melakukan petisi untuk aksi selanjutnya.

Zulfikar Zamardi sekertaris AMPIBI, yang ditemui media pada saat aksi mengaku, ada tujuh poin tuntutan yang telah disampaikan dalam orasi ajakan, salah satunya adalah dana Covid-19 senilai 26 miliar rupiah yang tidak pernah diterima oleh masyarakat, sedangkan yang lebih fatal menurutnya adalah putusan pengadilan yang sudah membuat malu daerah ini yaitu pengembalian dana kampanye senilai 4,9 miliar rupiah pada pilkada tahun 2018.

“Dari tujuh poin tuntutan kami, semuanya dilengkapi dengan data, dan jelas Bupati Samsurizal telah memanfaatkan tenaga Honorer dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk kepentingan pribadinya di pantai Mosing desa Sinei Kecamatan Tinombo Selatan,”ungkapnya.

Zulfikar mengatakan, dari sepengetahuannya bahwa selama setahun orang nomor satu di Parimo ini tidak berkantor di pusat kota, dan hanya mengurus tempat wisata yang menjadi istana pribadinya, sehingga masyarakat merasa kehilangan arah.

“Beliau sebagai pemegang kebijakan dan tempat pengaduan masyarakat seharusnya hadir di pusat kota. Sedangkan kantor yang dibangun dengan megah dari uang rakyat itu namun tidak ditempati untuk berkantor sehingga kami mempertanyakan apa fungsi Samsurizal sebagai Bupati Parigi Moutong,”cecar Zulfikar.

Sementara itu perwakilan Mahasiswa Parigi Moutong Fahrur Razy sangat menyayangkan sikap Bupati yang meninggalkan istana megah (Rumah Jabatan) yang dibangun oleh rakyat melalui uang pajak.

“Jika memang Bupati sudah tidak mau tinggal di rumah jabatan, alangkah baiknya dijadikan kamp atau rumah tempat pengungsian saudara kita yang tertimpa bencana banjir bandang di desa boyantongo dan olaya,”tegasnya.

Dirinya mengoreksi jika ada dugaan dinasti pemerintahan kali ini yang sudah tidak bisa di tolerir. Pasalnya tidak sedikit mereka yang mengendalikan roda pemerintahan adalah ‘saudaranya’ sendiri, urainya.

Redaksi matarakyatindo.com / rilis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here