Harga Beras Turun, Petani Tobasa ‘Gelisah’ Anggota DPRD Angkat Suara

0
129

PARIMO | matarakyatindo.com – Kabupaten Parigi Moutong merupakan wilayah penghasil beras terbesar di Sulawesi Tengah dengan kualitas terbaik di Indonesia. Namun saat ini para petani sawah mulai ‘gelisah’ akibat turunnya harga beras.

Hasil telusur wartawan matarakyatindo.com di wilayah penghasil beras terbesar wilayah selatan Parigi Moutong, tercatat para petani sawah asal Kecamatan Torue, Balinggi dan Sausu (Tobasa) belum memulai masa tanamnya akibat merugi.

Apa tanggapan anggota DPRD Parimo asal wilayah daerah pemilihan Satu ? Menurut politisi Hanura I Putu Edi Tangkas, sirkulasi harga beras yang terjadi memang turun drastis sesuai keluhan dari para buru tani di wilayahnya.

Kejadian ini sudah memasuki Empat pekan akibat sirkulasi harga yang ada saat ini menjadi pasang surut. Akibatnya para petani sawah di Tabasa telah merugi akibat pembelian harga gabah ataupun harga beras menurun.

“Selaku wakil rakyat tentu merasa ‘gelisah’ dengan terjadinya pembelian harga beras dibawah standar. Hal ini berakibat kepada para petani dan buruh tani yang saling bersirkulasi saat melakukan pannen bersama” jelas Edi Tangkas.

Dia berharap kepada pemerintah daerah untuk secepatnya melakukan monitoring ataupun respon gerak cepat terkait keluhan para petani sawah yang lagi ‘gelisah’ karena harga beras turun drastis.

Edy menyesalkan terjadinya harga jual beras dari petani yang terlalu rendah. Padahal harga jual di pasaran saat ini masih tinggi dan stabil. Kondisi tersebut, menurutnya cukup merugikan bagi buruh tani yang pendapatannya masih dibagi dengan pemilik lahan.

Tak hanya itu sambung Edy, para petani juga sering dibingungkan dengan kebijakan pemerintah daerah, “Sebelumnya, saya selaku Perwakilan Rakyat saja sampai prihatin dengan kondisi harga jual beras petani ”urainya.

Edy berpendapat, gurunya harga beras diprediksi oleh melimpahnya produksi beras. Dan ini tentu saja perlu menjadi perhatian pemerintah daerah khususnya dinas perdagangan, agar harga pasaran tidak merosot drastis.

“Untuk saat ini para petani kebingungan mau jual kemana beras hasil panennya” jelas Edy.

Politisi Hanura ini meminta agar pemerintah daerah segera mencarikan solusi untuk para petani dalam mendistribusikan beras ke luar daerah.

Hal ini dimaksudkan agar para petani tidak lagi menjerit dan beras tidak menumpuk dalam lumbung akibatnya beras akan rusak, dikarenakan petani juga perlu persiapan masa tanam.

Sementara, politisi Partai Demokrat wilayah IV Adnyana Wirawan berprediksi jika terjadinya anjlok harga beras di Parimo akibat masuknya beras impor, ujarnya singkat melalui WhatsApp (WA) siang ini.

Wartawan : Deni Renaldi / Editor : Pde

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here