Ini Permintaan Pasigala Center Terkait Kunjungan Presiden di Palu

0
312

PALU (SULTENG) | matarakyatindo.com – Pasigala Center yang didalamnya tergabung korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Palu,Sulteng berharap kepada Presiden Joko Widodo mendengar suara aspirasi korban yang menolak direlokasi di dua kawasan hunian tetap (huntap).

“Kami berharap kepada Presiden dapat mendengar langsung aspirasi korban terdampak, yang tidak pernah disampaikan oleh satuan tugas rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sulteng dan pemerintah daerah, terkait penolakan korban terhadap areal relokasi, khususnya warga korban liquefaksi Balaroa dan Petobo,” ungkap Sekjen Pasigala Centre, Khadafi Badjerey.

Bagi korban bencana itu, kunjungan Presiden ke Kota Palu dalam rangka meninjau pembangunan huntap di Kelurahan Tondo dan Duyu, dianggap sebagai kegiatan seremonial belaka, jika Presiden tidak dapat menyerap aspirasi warga, yang sejak awal menolak direlokasi ke dua tempat tersebut.

Seperti korban likuefaksi Petobo yang menolak direlokasi ke Kelurahan Tondo, dan meminta Gubernur Sulteng untuk mencabut SK penetapan lokasi relokasi atau lokasi pembangunan hunian tetap. Penolakan itu telah disampaikan warga Petobo sejak awal tahun 2019.

“Mestinya pemerintah telah menemukan solusi karena jika dipaksakan konsekuwensinya lebih berat, pemerintah akan mencoreng wajahnya sendiri terkait komitmen penanganan pascabencana, mengingat dana huntap berasal dari komitmen hibah dan loan international,” ujarnya lagi, kepada awak media, Rabu (30/10/2019)

Korban bencana menegaskan bahwa relokasi, bukan sekedar memindahkan hunian korban dari satu tempat ke tempat yang lain, melainkan ada manusia di dalamnya yang harus diperhatikan dan dipenuhi hak-haknya.

Olehnya, jika pemerintah tetap memaksakan untuk dipindahkan, maka siap-siap pemerintah gigit jari, sebab pembangunan sia-sia karena tidak dihuni.

Sebaliknya, kegiatan itu hanya akan nampak bahwa pemerintah melakukan pemborosan, yang merupakan dampak dari tidak adanya dialog terkait relokasi korban terdampak bencana gempa, tsunami dan likuefaksi.

“Sekali lagi, pemindahan hunian atau relokasi, bukan perkara bangunan semata. Tetapi ini menyangkut aspek kehidupan yang lebih kompleks. Ada manusia di dalamnya, ini yang harus menjadi fokus perhatian oleh pemerintah,” katanya.

Korban bencana alam menginginkan agar pembangunan huntap bagi warga terdampak likuefaksi Petobo dan Balaroa, kemudian korban tsunami Kelurahan Lere dan warga pesisir lainya bahwa, huntapnya dapat dibangun dengan skema hunian tetap satelit, yang arealnya tidak jauh dari permukiman semula.

Reporter : BIM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here