Longgarnya Aturan PSBB

0
127

Artikel || matarakyatindo.com Aroma keputusasaan semakin banyak tersebar di berbagai media akibat banyak masyarakat yang dinilai tak menghiraukan aturan PSBB. Entah karena bosan di rumah, kebutuhan mendesak di luar, atau aturan PSBB yang memang tak ketat di sejumlah wilayah.

Kadang memang pada kasus tertentu sikap otoriter dibutuhkan seperti di Vietnam yang terbiasa dipimpin pemerintah komunis yang otoriter-terpusat sehingga rakyatnya patuh dan membuahkan hasil yang menggembirakan, nol persen pasien meninggal dalam kasus covid-19.

Tapi kultur di Indonesia berbeda. Masyarakat terbiasa moderat. Tak mau diatur-atur sehingga pemerintah mengambil jalan tengah.

Konsekuensinya, pemerintah terkesan tidak tegas dan tidak jelas. Ada aturan PSBB tapi masih mengizinkan transportasi, mal, dan tempat publik untuk buka. Aturan-aturan di desa juga sangat longgar. Apalagi kabar statemen dari pemerintah tentang pelonggaran PSBB sebagaimana yang dilansir banyak media, semakin santer terdengar.

Ini tidak hanya memicu terjadinya kerumunan di tempat publik tapi juga mengabaikan bahaya virus corona.

Masyarakat kita masih menempatkan opinion leader seperti kiai atau pendeta untuk menjadi pemain kunci dalam mewacanakan aturan dari pemerintah.

Opinion leader masih menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam menentukan keputusan. Apa yang diwacanakan opinion leader akan menjadi praktik sosial di masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang lebih patuh kepada kiainya daripada aparatur negara.

Jika ada pemuka agama yang mengindahkan bahaya covid-19 maka jangan heran bila jama’ahnya berbuat hal yang sama.

Kerjasama pemerintah dengan tokoh agama sangat penting untuk memupuk kepercayaan dan kepatuhan masyarakat.

Terutama perannya dalam meyakinkan masyarakat melalui wacana-wacana bahaya Covid-19 dan pentingnya menaati peraturan pemerintah.

Penulis :

Indra Rukmana
Dosen/Aktivis Kemanusiaan Parigi Moutong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here