Penggalian Ipal Komunal di Desa Bunto, Diduga Tidak Diketahui Oleh Pihak BPD dan Juga Anggota KSM, Ada Apa ??

0
245

Pohuwato – matarakyatindo.com – Penggalian Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal) kamunal yang berada Di Desa Bunto, Kecamatan Popayato Timur, Kabupaten Pohuwato, diduga tidak di ketahui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Selaku Pengawas, dan juga oleh Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) sebagai Pelaksana,” Kamis (26/9/2019).

Pasalnya, Penggalian Ipal tersebut dilakukan oleh Ketua KSM pada malam hari, dan tidak diberitahukan kepada Anggota KSM lainnya dan juga pihak BPD selaku Badan Pengawasan yang berada Di Desa tersebut.

Max Warrow Selaku Ketua KSM saat dimintai Keterangan oleh Reporter matarakyatindo.com mengenai hal tersebut pada Kamis (26/9) mengatakan bahwa permasalahan tersebut biasa-biasa saja, sebab belum ada pemeriksaan terkait hal tersebut.

“Oh biasa-biasa saja,” Tuturnya dengan menggunakan logat daerah.

Dia Menambahkan bahwa semua pekerjaan yang dilaksanakan olehnya tidak ada permasalahan.

“Bah biasa-biasa saja,” Tambahnya dengan nada terpaksa.

Disaat yang Sama Bendahara KSM Harun Idrus mengatakan bahwa dirinya tidak pernah di beritahu oleh Ketua KSM terkait dengan adanya Penggalian tersebut.

“Saya selaku bendahara KSM tidak tau menahu tentang persoalan Penggalian Ipal yang dilaksanakan pada malam hari kemarin,” Ucapnya.

Dia Melanjutkan bahwa dirinya selaku Bendahara Desa sudah merasa kecewa dengan Ketua KSM tersebut, karena menurutnya beliau sudah tidak lagi Koordinasi dengannya.

“Sebenarnya yang saya tau ini alat yang melakukan penggalian itu adalah alatnya milit Daeng Dodi, tapi ketika saya hubungi beliau, dan saya tanyakan berapah harga sewa alat Eksa yang mau menggali Ipal tersebut, menurutnya biasa Enam (6) Juta lima (5) Ratus Rupiah, Lima juta harga Transpor, dan Satu juta Lima Ratus harga Alat,” Lanjutnya.

Bendahara KSM itu kemudian menyampaikan bahwa Ketua tersebut sudah membohongi dirinya, karena pemberitahuan yang disampaikan kepadanya alat yang akan digunakan untuk penggalian Ipal tersebut adalah alat milik Daeng Dodi, tetapi dilapangan tidak demikian.

“Anggaran yang diberikan kepada ketua tersebut adalah berjumlah Delapan Juta Lima Ratus, namun alat Eksa milik Daeng Dodi tersebut dibatalkan oleh ketua, dan beliau menggunakan alat milik orang lain,” Imbuhnya.

Sementara, Salah Satu anggota BPD yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa dirinya merasa sudah tidak dihargai lagi oleh pihak KSM itu sendiri, padahal menurutnya mereka sudah mengetahui dirinya sebagai pengawas, namun mereka tidak pernah melakukan pemberitahuan kepadanya.

“Saya punya tugas pengawasan ini dalam bentuk apa, karena saya selama pekerjaan yang di desa bunto ini, mulai dari Pembangunan Janban Komunal sampai dengan penggalian Ipal ini tidak pernah diberitahukan oleh Pihak KSM,” Pungkasnya dengan Rasa Kecewa.

Reporter : Ramlan Tangahu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here