Puluhan Guru SMAN 3 Poso Mogok Mengajar, Berikut Alasannya !!!

0
30

Para guru sayangkan pernyataan Kejari Poso LB Hamka kepada media saat konferensi pers mengatakan melakukan jemput paksa terhadap Suhariono dirumahnya padahal beliau diantar anaknya ke Kejaksaan…!

POSO | matarakyatindo.com – Puluhan guru SMAN 3 Poso, Sulteng, melakukan aksi mogok mengajar daring dengan cara duduk ditengah lapangan basket SMA 3 Poso, Kamis (09/09/2021). Aksi dimulai jam 8 pagi hingga jam kerja usai pukul 12 siang.

Aksi ini dilakukan sebanyak 44 guru sebagai bentuk solidaritas dan protes atas menegakan hukum terhadap Kepala Sekolah SMAN 3 Poso Suhariono yang divonis bersalah dalam perkara penyalahgunaan pungutan Dana P3/Dana Komite pada SMAN 3 Poso tahun ajaran 2018/2019.

Alasan adanya aksi mogok ini, pasca Kejaksaan Negeri Poso mengeksekusi mantan kepala SMA Negeri 3 Poso itu pada Senin 6 September 2021 setelah menerima putusan Kasasi Mahkamah Agung RI, menyusul putusan Pengadilan Negeri Palu yang memvonis dirinya bebas pada tahun 2020 lalu.

Koordinator aksi solidaritas guru SMAN 3 Poso Andi Asgar mengatakan, aksi ini sebagai bentuk protes atas penegakan hukum di Poso yang tak berkeadilan.

Sebab, kasus yang dilimpahkan kepada mantan Kepsek SMAN 3 ini tidak menimbulkan kerugian negara. Bahkan, tak sepeserpun dana komite yang dipakai oleh yang bersangkutan.

Andi Asgar mengaku, jika penegakan hukum masalah dana komite sekolah ini benar-benar ditegakkan oleh Kejari Poso. Maka, bukan tidak sedikit Kepala Sekolah akan terseret. Tapi faktanya, penegakan hukum ini terkesan tak berkeadilan.

Sementara guru peserta aksi mengaku, tidak ada penyalahgunaan dana komite oleh mantan Kepsek. Sebab putusan PN Palu mantan Kepsek sudah bebas.

Namun dalam kasasi, Jaksa memasukan unsur pemerasan, sehingga MA keluarkan putusan eksekusi, padahal tak ada itu pemerasan,” terang sejumlah guru.

Bahkan mereka turut menyayangkan jika Jaksa dalam pernyataan di media melakukan jemput paksa terhadap Suhariono. Padahal, yang bersangkutan diantar langsung oleh anaknya.

“Kami sayangkan Kejari Poso LB Hamka kepada media saat konferensi pers mengatakan melakukan jemput paksa terhadap Suhariono dirumahnya, padahal beliau diantar oleh anaknya ke Kejaksaan. Kejari Poso telah melakukan pembohongan publik dan mencederai rasa keadilan para guru,” terang para guru perempuan sembari terisak tangis mengenang mantan Kepsek mereka.

Aksi para guru SMAN 3 Poso ini akan terus mereka lakukan sampai ada kejelasan hukum dan status Suhariono.

Seperti diketahui, eksekusi terhadap mantan Kepala SMAN 3 itu berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 1999 K/PID.SUS/2021 tanggal 19 Juli 2021.

Yang bersangkutan dinilai melanggar Pasal 12 Huruf E UU Nomor 31 tahun 1999 terkait perkara penyalahgunaan pungutan Dana P3/Dana Komite pada SMAN 3 Poso tahun ajaran 2018/2019.

Pengadilan Negeri Palu menyatakan bebas sebagaimana tertuang dalam putusan Nomor 24/Pid.Sus.TPK/2020/PN.Pal tanggal 20 Oktober 2020.

Kemudian Jaksa Penuntut Umum pada Kejari Poso melakukan upaya hukum Kasasi sesuai Akta Permohonan Kasasi Nomor 21/Akta/Pid.Sus-TPK/2020/PN.Pal tanggal 20 November 2020.

MA juga menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 200 juta. (DM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here