Rumah Warga Terdampak Banjir Akibat Operasi Tambang Emas Ilegal Kayuboko ‘Didiamkan’ ?

0
407
Foto : Sekcam Parigi Barat Iphong dengan latar belakang Aliran sungai yang sudah dibenahi namun belum di bronjong
Wartawan : Sumardin (Pde)

PARIMO | matarakyatindo.com – Pasca banjir menyeret 51 rumah warga desa Air Panas Kecamatan Parigi Barat, Parigi Moutong belum lama ini akibat beroperasinya tambang emas ilegal desa Kayuboko, ternyata masih diam.

Padahal, dalam surat perjanjian antara pihak penguasa tambang kayuboko dengan tokoh masyarakat desa telah sepakat melalui perjanjian tertulis apabila terjadi hal-hal berhubungan dengan pengelolaan tambang, salah satunya akan mengganti rugi apabila ada tanaman dan rumah warga yang terdampak.

“Sampai sekarang mana ada bantuan dari pengusaha tambang itu untuk warga yang terdampak banjir empat bulan lalu. Mereka sengaja diamkan hal ini, termasuk bos besar yang sulit dihubungi, nomornya sudah tidak aktif” kata Rahman Badja selaku tokoh masyarakat desa Kayuboko.

Inilah potret keluarga Ambo Ama warga desa Air Panas yang rumahnya terseret banjir (F-Pde)

Kata Rahman, desa Air Panas yang terdampak banjir dengan merendam 45 rumah, 5 rumah rusak ringan dan 1 rumah dihempas banjir itu harusnya menjadi perhatian mereka sesuai perjanjian.

Hal inilah membuat keluarga-keluarga di desa Air Panas menjadi gelisah dan terus menyampaikan permasalahan yang belum terselesaikan, baik itu dari hasil pertemuan tingkat desa maupun pertemuan tingkat Kecamatan dan Kabupaten semuanya nihil, ungkap Rahman selaku aktifis pemekaran desa Air Panas, Minggu (11/10/2020).

Rahman menambahkan, pengelolaan tambang diatas gunung yang membelah sungai kayuboko dan air panas jika dikelola dengan benar, tidak akan membahayakan warga desa Air Panas.

Tapi karena pengelolaannya hanya asal-asalan, sudah jelas saat musim hujan tiba semua yang ada diarea mengalirnya air bah pasti akan menerjang semua yang dilewati. Buktinya puluhan hektar perkebunan warga desa Air Panas terendam dan merusak daun seperti terbakar. Ini jadi tumbalnya juga, sebut Rahman dengan nada kesal.

Senada, seorang guru di desa Kayuboko yang tak ingin menyebut jati dirinya sangat berharap kiranya pihak pemerintah Kecamatan hingga pemerintah Kabupaten untuk turun ke desa Air Panas melihat dampak kerusakan akibat pertambangan di bagian hulu desa Kayuboko.

“Terus terang sepertinya para pelindung rakyat sudah diam. Kalau begini kemana harus dilaporkan ? Apakah nanti ada warga yang mati akibat alam dirusak orang baru datang bantuan ? Ini tidak adil” ungkap pak Guru.

Kami sebagai warga desa Kayuboko merasa prihatin terhadap warga desa Air Panas pasca diterjang banjir empat bulan lalu hingga kini belum melakukan aktifitasnya, terutama untuk satu keluarga yang rumahnya diseret banjir masih ‘nginap’ di tenda.

“Tenda yang terpasang juga didekat sungai. Kalau hujan tiba, mereka ketakutan dan pindah dirumah warga yang aman” tuturnya.

Bahkan permintaan warga yang terdampak banjir itu tidak muluk-muluk. Mereka berharap agar pemerintah bisa mencarikan solusi yaitu untuk direlokasi ketempat yang lebih aman.

“Saya meminta kepada pengusaha tambang untuk bisa membuka matanya membantu warga yang terdampak banjir. Yang diminta itu adalah sepanjang sungai didesa Air Panas dibuat Bronjong untuk menyelamatkan perkebunan warga. Itu permohonan warga saat rapat ditingkat desa belum lama ini dilaksanakan” harap Pak Guru.

Camat Parigi Barat melalui Sekertaris Kecamatan, Iphong mengatakan, setelah banjir merendam puluhan rumah warga empat bulan lalu itu pihaknya sudah melakukan rapat dengan desa terdampak. Tapi hasil rapat tersebut tidak menghasilkan solusi karena saat rapat pihak pengelola tambang tidak pernah hadir.

“Dalam rapat itu warga berharap agar pihak pengelola tambang dihadirkan. Tapi selama pertemuan dilakukan, hanya warga desa dan pemerintah kecamatan saja yang hadir. Sementara undangan untuk pengelola tambang disampaikan tapi tidak dihadiri. Makanya hasil rapat tidak ada” ujar Iphong. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here