Rutin “Setor” Retribusi Pasar, Tapi Penyediaan Los Untuk Pedagang Nihil…! Terpaksa Buat Lapak Sendiri

0
153

PARIMO | matarakyatindo.com – pasar tradisional adalah pasar yang biasanya dikelola oleh pemerintah, dimana untuk penjual dan pembeli bertemu secara langsung melakukan transaksi dalam bentuk eceran.

Pasar rakyatlah biasanya ada proses tawar-menawar, dengan bangunan terdiri atas kios, los, gerai, dan kaki lima, dilaksanakan secara mingguan atau tetap untuk kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari.

Namun berbeda dengan keberadaan pasar tradisional yang ada di Kecamatan Bolano Kabupaten Parigi Moutong (Sulteng). Justru keberadaan lapak / los para pedagang terlihat ‘buruk’ karena hanya dibangun seadanya oleh pedagang setempat.

Padahal mereka (pedagang) setiap saat berjualan tetap menyetor retribusi kepada pemerintah daerah melalui Dinas tertentu sesuai yang tertera di karcis tagihan pasar.

“Setiap hari pasar, kami dari pedagang yang berjualan disini tetap menyetor kewajiban. Tapi anehnya kenapa para pedagang tidak disiapkan lapak atau los tempat jualan, sehingga kami berupaya sendiri bangun lapak seadanya walaupun terlihat semrawut” kata Ibu Suarni.

Itupun sambung pedagang ini, ada dua tempat pasar tradisional yang tidak menyediakan lapak / los untuk pedagang, yaitu pasar Bolano dan pasar Wanamukti. Itupun yang ada hanya lapak tidak terpakai sehingga terlihat sudah dirayapi oleh semak belukar.

Sementara, untuk pedagang yang mendirikan lapak rata-rata pedagang pakaian, penjual ikan, penjual sayur, bumbu dapur serta barang dagangan lainnya.

“Lapak ini kami bangun dikarenakan Los pasar tidak di bangunkan oleh pemerintah, sehingga kami para pedagang terpaksa bangun secara swadaya bersama” Ujarnya pada matarakyatindo.com Minggu (26/9/2021).

Mewakili pedagang, Suarni berharap
kepada pemerintah Kabupaten, kiranya dapat memikirkan nasib pedagang yang mengais rejeki tanpa disediakan lapak / los resmi. Sedangkan kewajiban kami memberikan retribusi sudah terpenuhi.

“Bapak bisa lihat sendiri Los pasar Bolano dan Los pasar wanamukti. Los pasarnya bagaimana, kasihan kami para pedagang, kok rutin bayar retribusi Los pasar tidak di bangun” keluh-kesahnya.

Apa kata pengelola pasar tradisional yang ada di wilayah Kecamatan Bolano terkait keluhan pedagang soal persediaan lapak / los yang tak kunjung ada ?

Menurut salah seorang pengelola pasar yang tak ingin disebutkan namanya berkomentar, untuk kesediaan lapak / los para pedagang bukan kewenangannya, tapi oleh Dinas terkait. Dan kami membenarkan rutin menarik retribusi kepada para pedagang.

“Kami juga rutin menyetor hasil retribusi dari pedagang kepada pemda setiap bulannya, dan itu sudah ada targetnya setiap bulan” tuturnya.

Untuk target perbulannya kata pengelola Rp 1 juta dan itu wajib di setorkan, bahkan tidak mengenal baik itu hujan atau sepi wajib menyetor. Kami pun sering di tanyai oleh pedagang sendiri Soal Los pasar, kami bingung menjawabnya sebab kami yang bersentuhan setiap minggunya di pasar, Bebernya.

Bahkan pihaknya juga kerap kali menanyai kepada Dinas terkait sesuai keluhan para pedagang, namun hal itu tetap menemui jalan buntu, karena tugas kami hanya menarik retribusi saja.

“Kami pun berharap pemerintah daerah dapat memikirkan juga nasib kami dan pedagang” celotehnya. (**)

Wartawan : Deni Renaldi / Editor : Pde

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here