Setelah Ditemukan Kasus Stanting Tahun 2020, Pemerintah Kecamatan Parigi Barat Langsung Melakukan Intervensi

0
168
Wartawan : Sumardin (Pde)

PARIMO | matarakyatindo.com – Permasalahan stunting menjadi salah satu yang harus diselesaikan untuk mencapai pembangunan SDM yang berkualitas, dinamis, terampil serta menguasai IPTEK.

Dalam lima tahun terakhir, permasalahan stunting di Indonesia mengalami kemajuan yang positif. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia, tahun 2019 menunjukan prevalensi stunting sebesar 27,67%, mengalami penurunan dari tahun 2018 yang sebesar 30.8%.

Foto : Melakukan kunjungan kepada balita yang lepas dari kasus Stanting bersama Kapus Idham, Bidan Niluh serta Sekcam Parigi Barat bersama wartawan di dusun 2 desa Air Panas

Kepada media ini, Camat Parigi Barat Kabupaten Parimo melalui Sekertarisnya, Irfan Siswono S.Sos membenarkan adanya intervensi pihak Puskesmas terhadap balita yang diduga terdampak gizi buruk dan Stanting.

Mengingat Stunting merupakan masalah gizi kronis kata Irfan yang ditandai dengan kegagalan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang optimal. Hal tersebut sebagai dampak dari kekurangan gizi secara kumulatif.

Dampaknya anak terlalu pendek untuk usianya, tambah Sekcam Parigi Barat yang diikuti dengan penurunan kemampuan kognitif dan resiko tinggi di masa depan mengalami berbagai komplikasi penyakit.

“Masalah stunting pada anak ketika di masa depan apabila sudah memasuki usia kerja akan menghasilkan angkatan kerja yang tidak kompetitif” ungkapnya.

Terbukti, seorang anak di desa Air Panas dusun 2 Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong (Sulteng) telah ditemukan satu kasus atas nama balita Marfel yang terlahir dari pasangan Abdul Rahman (24) dan Jumartin (20) tahun 2019 yang lalu.

Namun dengan sigap Kepala Puskesmas Parigi Barat Idham Panggau SKM langsung terjun lapangan dengan merekomendasikan kepada bidan desa bernama Niluh Srianawati untuk dilakukan penanganan secara khusus.

Menurut Bidan desa Air Panas, kasus gizi buruk diwilayah kerjanya terdeteksi kepada balita bernama Marfel yang terlahir tanggal 2 September 2019 lalu dengan berat badan 2,5 Kg di RS Devina.

“Sesuai perintah Kepala Puskesmas, saya langsung melakukan intervensi kedalamnya karena diketahui balita tersebut lahir secara Secchar (SC) di RS Devina” urai Bidan desa Niluh Srianawati.

Kepala Puskesmas Parigi Barat Idham Panggagau SKM didampingi Sekcam Parigi Barat Irfan Siswono S.Sos kepada media ini saat bersamaan melakukan kunjungan kerumah balita Marfel di dusun 2 desa Air Panas, Selasa (29/9/2020) membenarkan jika diwilayahnya tercatat satu balita terdampak gizi buruk.

“Bulan Januari 2020 kondisi anak ini diketahui gizi buruk. Setelah dilakukan intervensi penanganan stanting sampai dengan bulan September 2020 terjadi peningkatan berat badan menjadi normal sesuai dengan usia anak” terangnya.

Idham mengisahkan, berawal di Bulan Januari 2020 dilakukan kunjungan pertama dengan bidan desa dalam melakukan pelacakan stanting. Dan ditemukan berat badannya 4,4 kg tinggi badan 52,5 kg dengan lingkar kepala 42 Cm

“Berdasarkan berat badan / umur anak ini dinyatakan gizi buruk dan sangat kurus dengan status pendek atau stanting” urainya.

Setelah Bulan Maret, April dan Mei 2020 kata Idham dimana pada saat Corona berlangsung, pihak puskesmas tetap melakukan pemantauan dan intervensi untuk mematahkan kasus stanting di desa Air Panas.

Setelah bulan Juni terjadi perubahan yaitu dengan tinggi badan / umur serta tinggi badan balita Marfel menjadi normal. Begitu pula di Bulan Juli, Agustus dan September terjadi perubahan total dengan timbangan balita menjadi normal sesuai usia balita yang diduga menjadi stanting.

Idham menambahkan, mudah-mudahan kasus Stanting akan berfluktuasi hingga ke angka nol dari enam desa di Kecamatan Parigi Barat Kabupaten Parigi Moutong. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here