Tambang Emas ‘Ilegal’ di Moutong Tanpa Ijin di Razia Polisi, Amankan Dua Eksavator

0
138

Editor : Sumardin (Pde)

PARIMO || matarakyatindo.com – Berdasarkan laporan masyarakat terkait adanya tambang emas di Wilayah Sejoli Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong (Sulteng) yang telah mencemari aliran sungai desa Molosipat dan sungai desa Persatuan.

Akibat rusaknya lingkungan, masyarakat sekitar menjadi resah dan melapor kepihak Kepolisian, terkait adanya pencemaran aliran sungai yang berada di dua desa maupun didesa tetangga berbatasan di Kabupaten Pohuwato – Gorontalo.

Atas keluhan masyarakat tersebut tim yang dipimpin Kasat Reskrim Polres Parimo AKP Donatus Kono S.H., S.I.K dan Kapolsek Papayato Barat melakukan pengecekan lokasi ke daerah penambangan ‘ilegal’.

Setelah mendapatkan titik kordinat, ternyata wilayah tambang tersebut masuk wilayah Kabupaten Parimo, sehingga Tim Polres Parimo berkoordinasi dengan Kapolsek setempat melakukan tindakan penegakan Hukum Pada tanggal 26 Januari 2020 sekitar Jam 10.00 Wita.

Dari hasil pengecekan lokasi, ditemukan kegiatan penambangan yang sudah berjalan dengan Cara Land Clearing dan mendatangkan 2 (Dua ) Alat Berat berupa Exavator Merk Catterpillar warna kuning CT 320 yang menurut penambang disewa dari pemilik Alat Berat dari IB.

Perbuatan Para penambang Ilegal berakhir dengan Penegakan Hukum dimana aliran Sungai desa Molosipat dan desa Persatuan ‘dialihkan oleh terduga penambang, sehingga aliran Sungai berubah dan tidak melalui jalur semestinya.

Berdasarkan rilis Ishak Kepolisian, material yang terkumpul sudah sangat banyak di aliran Sungai sebanyak 700 Baket Exavator yang menurut salah satu saksi di lokasi menyebut jika material tersebut siap untuk diolah hingga menghasilkan Emas.

Diduga penambangan tersebut juga masuk dalam wilayah hutan lindung, karena perjalanan menuju hutan yang di buka oleh penambang tersebut tergolong sulit untuk jalur tempuhnya, karena areanya berlumpur yang disebabkan oleh penambangan ‘ilegal’.

Telah diperoleh informasi jika oknum pendana lokasi tambang ‘ilegal’ inisial M warga desa Moutong Kabupaten Parimo, karena saat dirazia tidak dapat menunjukkan Izin Usaha Pertambangan dari Dinas terkait serta IPPKH (izin pinjam Pakai Kawasan Hutan) dari Menteri Kehutanan.

Polisi langsung menghentikan kegiatan penambangan tersebut dengan cara menurunkan alat berat dari Hutan Lindung menuju areal perkampungan. Selanjutnya alat berat yang digunakan untuk menambang Emas Sekunder tersebut Dibawa Ke Kantor Polres Parimo untuk Dilakukan Proses Penyidikan.

Para terduga pelaku lenambangan Emas Ilegal disangkakan pasal berlapis, yaitu pasal 158 UU no. (3) tahun 2020 perubahan tentang UU no. (4) tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara dengan ancaman pidana paling lama (5) tahun dan denda Rp 100 milliar, dan pasal 89 ayat (1) huruf a UU nomor 18 tahun 2013 ttg pencegahan dan perusakan hutan dipidana dengan pidana penjara paling singkat (3) tahun dan paling lama 15 thun dan denda (1) milliar 500 juta rupiah.

Kapolres Parimo AKBP Andi Batara Purwacaraka, SH, SIK, menyampaikan himbauan kepada seluruh warga masyarakat, agar tidak melakukan penambangan minerba illegal atau tanpa izin dari pemerintah, baik di daerah pegunungan, kawasan hutan lindung, hutan produksi, hutan konservasi, sungai atau di lokasi lainnya.

Bagi para pemilik alat berat agar tidak menyewakan alat beratnya untuk dipakai dalam kegiatan penambangan illegal, karena selain melanggar aturan hukum, hal ini juga semata-mata untuk tetap menjaga dan melestarikan ekosistem lingkungan agar tetap terjamin, tidak tercemar dan kelak masih akan dapat dinikmati oleh anak cucu kita semua.

“Surat berupa himbauan yang disertai sangsi hukum sebelumnya pun telah beberapa kali dikirimkan kepada para pemangku kepentingan di wilayah ini hingga ke tingkat Pemerintah Desa” kata AKBP Andi Batara Purwacaraka, SH, SIK. (**)

Sumber : Bidang Humas Polres Parimo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here