Wabup Badrun Nggai Membuka Penilaian Penurunan Aksi Stunting di Parimo

0
59
Wartawan : Deni Renaldi / Editor : Pde

PARIMO | matarakyatindo.com – Berlangsung di Aula Kantor Bappelitbangda Kabupaten Parigi Moutong, pelaksanaan  penilaian kinerja aksi konvergensi penurunan stunting di buka oleh Wakil Bupati H. Badrun Nggak SE di dampingi Kepala Bapelitbangda Kabupaten Zulfinasran SSTP MAP, Rabu (7/10/2020).

Pantauan matarakyatindo.com, nampak yang hadir dalam kegiatan tersebut yaitu perwakilan Bappeda bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) se – Sulteng bersama Dinas yang tergabung dalam aksi penurunan stunting di Kabupaten Parigi Moutong serta Ketua Tim Panelis asal Universitas Tadulako Palu, Dr Eko Joko Lelono, SE, M.Si.

Juga turut hadir unsur Forkompinda, Ketua DPRD Parimo, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para Camat, para Kepala Desa, para Kepala Puskesmas, para ketua organisasi profesi seperti IDI, IPI, PPRI, dan Persakmi.

Disesi pembukaan, Wabup H. Badrun Nggai mengatakan, dalam pelaksanaan penilaian kinerja aksi penurunan stunting terlaksana berdasarkan Surat Gubernur Sulteng Nomor 107/456/Bappeda tertanggal 4 September 2020 yang kemudian dipeekuat Keputusan Bupati Parimo Nomor 267.45/1049/Bappelitbangda tertanggal 30 September 2020.

Hal ini dimaksudkan, sebagai upaya melakukan perbaikan konvergensi intervensi gizi atau spesifik dan sensitif  pada  masyarakat Parigi Moutong.

“Perbaikan indikator dilakukan melalui pelaksanaan delapan konvergensi/integrasi dalam perencanaan, penganggaran, implementasi, pemantauan, dan evaluasi program” Urai Wabup.

Senada dengan stunting, Kepala Dinas Kesehatan Parimo, dr. Agus S. Hadi menjelaskan, kegiatan berkaitan dengan stunting merupakan pelaksanaan integrasi yang diharapkan bisa meningkatkan jumlah rumah tangga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dapat mengakses intervensi gizi secara lengkap atau konvergen serta mendapatkan kecukupan nutrisi kepada Ibu Hamil dan balita.

Menurut dr. Agus, indikator penilaian kinerja oleh Pemerintah daerah terdiri dari indikator penilaian kinerja pada tahun pertama dan kedua yang disusun berdasarkan kinerja sehingga diharapkan pencapaiannya dari setiap aksi konvergensi/integrasi dilakukan.

“Kinerja dari setiap aksi konvergensi/integrasi ini mengacu pada pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan Intervensi penurunan Stunting yang terintegrasi. Setiap indikator penilaian dilengkapi dengan nilai capaiannya” urai mantan Kepala RSUD Anuntaloko ini.

Selain itu, sebagai perbandingan kinerja dan pembelajaran antar kabupaten/kota dalam wilayah Sulawesi Tengah atau Peer Learning untuk meningkatkan kualitas maupun hasil pelaksanaan delapan aksi konvergensi/integrasi.

Ditambahknya, mengingat Stunting adalah permasalahan gizi kronis, yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama yang disebabkan kurangnya asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, maka setidaknya ini menjadi perhatian bersama, terang dr. Agus. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here